Kisahini di ambil dari buku kisah syekh abdul qodir al jailani.karomah syekh abdul qodir,karomah syekh abdul qodir jaelani,karomah syekh abdul qodir jaelani abdulqodir jaelani kata kata sms, ilmu laduni syekh abdul qadir al jailani dan ketawadhuan, kisah wali syekh abdul qodir jaelani adalah orang saleh alim tinggi ilmunya dan memiliki akhlak yang baik serta selalu mencontoh rasulullah saw beliau lahir pada tahun 470 h 1077 m serta meninggal pada . Syekh Abdul Qadir tidak hanya dikenal sebagai maestro dalam bidang ilmu tasawuf. Seperti disampaikan cendekiawan Syekh Muhammad Fadhil al-Jailani, alim tersebut juga menguasai 13 bidang ilmu sains. Menurut cucu ke-25 dari ulama abad ke-12 M itu, beberapa kajian yang digeluti sang mujadid ialah astronomi dan medis atau kedokteran. Penamaan jalan sufistiknya, yakni Tarekat Qadiriyah, cenderung mengemuka beberapa tahun sesudah wafatnya. Sebagai catatan, Syekh Abdul Qadir berpulang ke rahmatullah pada malam Sabtu, tanggal 8 Rabiul Akhir 561 H. Jenazahnya dimakamkan pada malam itu juga di madrasahnya, Babul Azaj, sekitaran Baghdad. Lautan manusia mengiringi prosesi pemakaman. Pokok ajaran tarekat itu adalah pertama, akidah yang benar. Pada masa hidupnya, Syekh Abdul Qadir selalu mewanti-wanti pentingnya berakidah seperti generasi salaf. Di samping itu, akidah yang dijalankannya ialah Ahlussunah waljamaah aswaja. Caranya dengan berusaha sungguh-sungguh dalam memahami dan mengamalkan Alquran dan Sunnah Nabi SAW. Dengan begitu, seseorang akan mendapatkan petunjuk dalam menapaki jalan thariq yang menyampaikan ke hadirat Allah SWT. Kedua, dalam ajaran Tarekat Qadiriyah, seorang murid atau salik dituntut untuk mempunyai sikap mubtadi. Maknanya, mengikuti dengan berbagai sifat uta ma. Pada praktiknya, mereka gemar membersihkan hati dan pikiran. Dengan begitu, tangan dan kaki akan ringan dalam berbuat kebajikan dan menolak kemungkaran amar ma'ruf nahi munkar. Ketiga, aspek sosial juga di tekankan. Para salik mesti menjaga kehormat an para mursyid, bergaul baik dengan sesama ikhwan, serta memberikan nasihat kepada sesama Mukmin. Menjauhi permusuhan serta senang memberikan pertolongan, baik dalam masalah agama maupun dunia. Itulah cerminan pribadinya. Keempat, setelah ajaran dasar tersebut dihayati dan diamalkan, para murid dapat menjalani berbagai tahapan maqam kerohanian. Inilah yang diistilahkan sebagai riyadhah latihan dan mujahadah kesungguhan dalam membiasakan jiwa dan raga untuk taat kepada Allah SWT. Untuk tahap awal, mereka akan pertama-tama berbincang dengan guru. Lantas, syekh akan menyampaikan wejangan, pembaiatan, serta pembacaan doa-doa. Untuk tahap selanjutnya, tiap murid berkomitmen untuk menempuh jalan Illahi dengan didampingi oleh syekh. Fase ini membutuhkan waktu yang cukup panjang, bisa menghabiskan durasi bertahun-tahun lamanya. Dalam tahapan ini, murid diberi ilmu hakikat oleh gurunya. Oleh sebab itu, seorang salik harus yakin atas perjuangannya dan tetap bersemangat untuk melawan hawa nafsu dan melatih dirinya. BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini Ada sebuah pepatah bahasa Arab yang mengatakan Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah.’ Pepatah di atas menunjukkan bahwa selain memiliki kewajiban mencari ilmu, seseorang dituntut pula untuk menyebarkan dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Mengapa demikian? Karena dengan mengamalkan, hakikatnya secara tersirat ia juga belajar. Dalam Al-Quran, Allah swt memberikan jaminan kepada orang yang mengamalkan ilmunya, dia akan memperoleh ilmu yang tidak tertulis di dalam kertas atau yang sering biasa kita sebut dengan Ilmu Ladunni. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 282, “Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan memberikan pengajaran kepada kalian, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” Menurut sebagian al-`Arifin orang yang dekat dan mengenal Allah tafsiran dari ayat di atas adalah bahwa barang siapa yang menempati maqam takwa, maka dia pantas dan layak menerima warisan ilmu Allah yaitu Ilmu Ladunni. Menurut sebagian ulama Ilmu Ladunni merupakan ilmu yang diletakkan oleh Allah di dalam hati para kekasih-Nya waliyullah, dan inilah yang dilakukan oleh Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam berdakwah menyebarkan ilmunya. Ada banyak kisah tentang Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang tidak dijelaskan di dalam kitab-kitab ulama zaman dahulu, namun diceritakan di dalam kitab-kitab karangan habaib dan ulama Hadlramaut, Tarim, Yaman. Negeri Yaman sering dijuluki Baldatun Auliya negerinya para wali. Jadi wajar saja apabila banyak dijumpai kisah tentang karomah para wali dan ulama yang tidak dijelaskan secara detail dalam kitab-kitab lain, termasuk ketika Rasulullah dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib meludahi mulut Syekh Abdul Qadir al-Jailani di saat mau berdakwah menyebarkan ilmu dikarenakan keder di hadapan para jamaahnya. Kisah ini juga diungkap dalam kitab al-Fawāid al-Mukhtārah Lisāliki Ṭarīq al-Ākhirah karya Habib Ali bin Hasan Baharun, seorang santri yang berguru kepada Habib Zain ibn Ibrahim ibn Smith di Hadlramaut, Tarim, Yaman. Alkisah, suatu ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani melihat kehadiran Rasulullah mendatanginya sebelum melaksanakan Shalat dzuhur. Seketika itu ia kaget bukan main dan tidak jadi melanjutkan shalat. Tak lama kemudian, Rasulullah bertanya; “Wahai anakku, mengapa kamu takut berbicara di hadapan orang banyak?” “Wahai ayahku, aku ini tumbuh dan besar di tengah-tengah penduduk yang tidak pandai berbicara. Lantas bagaimana aku mau berbicara dihadapan penduduk Kota Baghdad yang pandai berbicara, ditambah lagi ulamanya banyak yang alim?” jawab Syekh Abdul Qadir dengan rasa malu. Mendengar jawaban Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Rasulullah langsung memerintahkan beliau untuk membuka mulutnya. Lalu Rasulullah meludahi mulut Syekh Abdul Qadir al-Jailani sebanyak tujuh kali. Kemudian beliau bersabda, “Sekarang, pergilah dan bicaralah di hadapan manusia. Berdakwalah dan ajak mereka ke jalan Allah, berikan mereka nasihat-nasihat yang baik.” Begitulah kasih sayang Rasulullah terhadap Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Sebagai keturunannya, Rasulullah terus menerus membimbingnya dalam berdakwah menyebarkan ilmu kepada seluruh manusia. Setelah kejadian tersebut, Syekh Abdul Qadir al-Jailani melaksanakan Shalat Dzuhur dan duduk sambil memikirkan bagaimana caranya untuk berdakwah di hadapan penduduk Kota Baghdad yang memiliki banyak ulama sangat alim. Mengingat dirinya bukanlah orang yang pandai berbicara. Selang beberapa saat, penduduk Kota Baghdad berbondong-bondong mendatangi Syekh Abdul Qadir al-Jailani di dalam masjid. Mereka meminta Syekh Abdul Qadir al-Jailani untuk memberikan pengajian kepada mereka. Sontak saja beliau bingung apa yang harus disampaikan kepada mereka, saat itu sekujur tubuhnya gemetar dan keder menghadapi penduduk Baghdad. Disaat Syekh Abdul Qadir al-Jailani kebingungan, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib datang dan masuk ke dalam masjid sambil berdiri di hadapannya. Sayyidina Ali bertanya kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani seperti apa yang telah ditanyakan Rasulullah. “Wahai anakku, mengapa kamu takut berbicara dihadapan orang banyak?” “Wahai ayahku, aku tidak bisa, tubuhku dari tadi gemetar dan aku gerogi dihadapan sekian banyak orang ini,” jawab Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjawab tanpa rasa malu. Tak ingin menunggu lama, Sayyidina Ali memerintahkan Syekh Abdul Qadir al-Jailani untuk kembali membuka mulutnya sebagaimana perintah Rasulullah sebelumnya. Lalu Sayyidina Ali meludahi mulutnya sebanyak enam kali. Hal itu membuat Syekh Abdul Qadir al-Jailani heran. “Mengapa engkau Sayyidina Ali hanya meludahi mulutku enam kali, sedangkan Rasulullah tujuh kali?” tanya al-Jailani. “Ini merupakan adab kepada Rasulullah dengan tidak melebihi darinya,” jelas Sayyidina Ali. Setelah kejadian tersebut, Sayyidina Ali bersembunyi dan mengintip apakah Syekh Abdul Qadir al-Jailani masih takut dan gemetar berbicara dihadapan penduduk Kota Baghdad ataukah tidak. Mungkin berkah dari ludah Rasulullah dan Sayyidina Ali, akhirnya beliau mulai berbicara dan berdakwah di hadapan mereka tanpa ada lagi rasa gemetar dan takut dalam dirinya. Jika kita memahami alur kisah inspiratif di atas, ada hal yang sangat menarik yang perlu kita contoh yaitu mengapa Sayyidina Ali hanya meludahi mulutnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani enam kali. Di sinilah kita perlu melihat betapa adabnya Sayyidina Ali begitu mulia, hingga masalah sepele’ saja ia tidak mau melebihi apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah. Itulah mengapa begitu sangat pentingnya adab dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan adab lah derajat seseorang akan diangkat oleh Allah. Terbukti seperti adab Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Allah angkat derajatnya dan menjadikannya Raja dari Seluruh Para Wali’. Lantas bagaimana dengan ilmu, bukankah itu juga merupakan elemen penting dalam kehidupan sehari-hari? Ilmu juga merupakan unsur yang sangat penting, namun itu setelah adab. Dahulukanlah adab dari pada ilmu. Setinggi apapun ilmu seseorang, tetapi jika ia menjadikan akhlah sebagai elemen yang kedua setelah ilmu, maka sungguh tidak berharga ilmu tersebut. Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo. Banyak bermacam-macam terapi alternatif yang dikenal. Pengobatan alternatif bisa menjadi salah satu upaya menyembuhkan penyakit. Salah satu pengobatan alternatif yang unik adalah Pengobatan dengan exercise’a Al-Qur’an, Sholawat dan Do’a warisan Nabi Khidir Equally, dan Warisan Syekh Abdul Qadir Jailani ini lagi Viral, tamu / pasiennya dari berbagai penjuru tanah air bahkan ada yang dari luar negeri. Mereka kebanyakan memiliki keluhan Non Medis Gangguan Ghaib dan banyak juga yang medis ditangani dengan sentuhan lembut Abah Kyai Haji Asy-Syad Taji Madurajeh, dan Do’a khusus ampuhnya mereka banyak yang terbantu diberikan kesembuhan oleh Allah SWT. Pengobatan alternatif ini sangat di minati warga masyarakat karena tidak mengandung kesyirikan, karena di tekankan untuk berdo’a/pasrah kepada Allah SWT dan memohon kesembuhan kepada-NYA. Pasien yang datang mengeluhkan berbagai penyakit medis. Namun Abah Kyai Haji Asy-Syad Taji Madurajeh, mengatakan sebagian besar pasiennya terkena santet atau ilmu hitam, sehingga menyebabkan sakit. Masyarakat banyak yang datang, terlebih setelah banyak terbukti orang-orang yang mengalami gangguan ghaib diserang jin sembuh, ada jin pengganggu setelah di nasehati masuk Islam, dan ada jin yang mau mengabdi Menjadi Pembantu tapi di tolak dan di suruh kembali kepada keluarga nya si jin, sehingga si jin tidak menjadi pembantu para dukun sihir yang bisa mencelakai orang lain. Pengobatan dengan do’a Al-Qur’an, Sholawat dan Do’a warisan Nabi Khidir As, Syekh Abdul Qadir Jailani ini dilakukan oleh Abah Kyai Haji. As-Syad Taji Madurajeh, pengasuh Pesantren Pesulukan AL-LINGLUNG eling dan minta tulung kepada Allah SWT. Sudah banyak bukti dan saksi, yang sudah merasakan khasiatnya, banyak orang yang tertolong dan sembuh. Awalnya pengobatan ini, hanya orang-orang tertentu yang tahu dan termasuk dirahasiakan, setelah banyak terbantu dan berhasil melalui mulut pasien yang puas getok tular, mereka mengajak teman, saudara, tetangganya untuk merasakan pengobatan yang ditangani Abah Kyai Haji As-Syad Taji Madurajeh ini. Pengobatan yang dilakukan oleh Abah Kyai Haji Every bit-Syad Taji Madurajeh terbilang sederhana. Ia hanya mengusap-usapkan tangannya ke bagian tubuh pasien yang sakit sambil melafadzkan ayat Al-Qur’an. Prosesi ini hanya berjalan sekitar 10 menit per pasien. “Dengan Ayat Al-Qur’an dan do’a warisan Nabi Khidir Every bit dan Syekh. Abdul Qadir Jailani yang Abah Kyai haji. Equally-syad taji madurajeh ini masih ada garis keturunan ke dan Sunan Gunung Jati – Cirebon, Syekh Pangeran Musyarif Arosbaya Sunan Arosbaya, ia dapatkan dari keluarga yang berasal dari Pulau Madura. Banyak terbukti ampuh untuk membantu orang yang lagi kesulitan dan sakit karena gangguan ghaib jahat. Banyak jin yang berteriak-teriak kepanasan dan meminta supaya tidak dibaca karena jin bisa terbakar dan tersiksa sehingga jin yang berada di tubuh pasien meninggalkan pasien dan tidak mengganggu kembali dan akhirnya si pasien menjadi sehat kembali dan bisa beraktifitas normal. Pengobatan ini buka setiap hari mulai dari jam. 0900 pagi sampai jam 1600 WIB. Ditanya soal jumlah pasien, Abah Kyai Haji Asy-Syad Taji Madurajeh, menyebut cukup banyak sehingga ia sampai kewalahan. Menurutnya sebaik-baiknya pengobatan itu tetap Allah yang berkehendak. Pasien harus ikhlas dan mau bertaubat kepada Allah swt “Alhamdulillah apa yang saya lakukan bisa memberikan banyak manfaat dan kesembuhan bagi orang yang sakit,” ujar Abah Kyai haji Asy-Syad Taji Madurajeh saat ditemui di Pesantren Pesulukan Al-Linglung, yang tepatnya beralamat Perumahan Griya Paoman Asri – iv, Blok D/four , RT 03 RW 06, Kelurahan Paoman Kecamatan/Kabupaten Indramayu Kode Pos 45211 Jawa Barat. Walau pasiennya membludak, Abah Kyai Asy-Syad Taji Madurajeh, tidak pernah mengeluh. Ia mengaku senang bisa menolong orang-orang yang sedang kesusahan karena berbagai macam penyakit. “Walau banyak yang datang ya saya senang-senang saja. Mengobati dan mengabdi ini sudah jadi bagian dari hidup saya, jadi kesenanganlah jadinya. Jadi kalaupun capek, rasa itu juga udah terabaikan, karena saya senang,” tutup Abah Kyai haji Asy-Syad Taji Madurajeh. *

ilmu pengobatan syekh abdul qodir jaelani